Skip to content

Geminids (ku) di bulan Desember

Desember 15, 2010

Bulan Desember 2010 seperti diberitakan oleh Jogya Astronomi Club maka diputuskan bahwa JAC akan mengadakan Observasi di Pantai Parangkusumo pada tanggal 13 Desember 2010 malam hingga 14 Desember 2010 pagi.
seperti biasa,saya yang sudah 2 kali ikut menyaksikan “hujan meteor” tida mau ketinggala untuk ikut serta…

Alhamdulillah, tidak seperti hari biasanya, Senin ini (13 Desember 2010) sehabis dr UNS, saya tidak ada agenda apapun, jadi bisa beristirahat sejenak dirumah sebelum meninggalkan Solo menuju Yogya dengan pramek.

Senin, 17.00 WIB. Solo.
saya segera bersiap-siap untuk “begadang” semalaman di pantai Parangkusumo. bersih-bersih diri, mempersiapkan bekal (rukuh, mantol dan buku ^^) yang dimasukkan ke tas ransel SMA ku (mau hunting 2 buku di Yogya, jd harus bawa tas yang ‘agak’ besar) dan berangkatlah ke Stasiun Purwosari jam 17.30 bersama Karisma tercinta.

Senin, 17.35 WIB
di Stasiun purwosari Solo.
segera parkir motor, Rp 3500,- (lebih mahal karena nginep semalam) dengan helm yang masih di kepala (sengaja, dibawa ke yogya) ke loket untuk membeli tiket pramek. Rp. 9000,- (tiket bisnis tanpa tempat duduk).
masuk menuju tempat tunggu di sebelah barat.hmm..senja yang indah di Purwosari. disekitar rel (jalur aman) yang deket perkampungan penduduk, banyak ibu,bapak, yang membawa anak-anaknya untuk “nonton sepur lewat”. wah, jadi ingat saat adek sepupu -Titis- masih berusia 2 thn an. seringnya ke gawok untuk “nonton sepur”. kalau sudah seperti itu, para pedagang asongan nggak mau kalah, mereka juga ikut nonton sambil jualan. Semoga mendapat rizky yang halal ^^

Stasiun Purwosari, 18.00 WIB
masih menunggu datangnya kereta yang menurut tiket berangkat jam 17.54. di sela-sela penantianku (dengan membaca buku), bagian informasi mengumumkan kalau kereta akan terlambat seitar setengah jam. ya sudahlah…sambil bca “Dalam Dekapan Ukhuwah” dan SMS an dengan sahabat yang berangkat dr Balapan, saya sabar menunggu disini 😀

Stasiun Purwosari, 18.35 WIB
“perhatian dari jalur 2, akan masuk dari arah timur kereta Pramek tujuan Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Tugu.”
begitu kira-kira berita dari bagian informasi. yupz, beres-beres perlengkapan, bawa helm saya segera menuju jalur 2. tak lupa berdoa dan berharap masih ada tempat duduk tersisa. rasanya tidak bisa mengharapkan “gerbong khusu wanita” karena ternyata banyak pria juga disana.

Stasuin Purwosari, 18.40 WIB
mulai masuk, berdesak2an dengan penumpang lain dan mencari tempat duduk. dua gerbong saya telusuri dan tidak mendapatkan tempat duduk.ya sudahlah, saya memilih berdiri saja di depan para penumpang wanita (nggak enak “bergelantungan” di depan penumpang pria).
yupz, kereta jalan dan siap menikmati perjalanan. karena teman yang naik dari Balapan dapat tempat duduk, maka saya sendiri menikmati “bergelantungan” sambil melihat pemandangan luar (yang gelap) dan membaca buku.

Stasiun Maguwo Yogya, 19.15 WIB
alhamdulillah, setelah 40 menitan “bergelantungan” banyak juga penumpang yang turun. saatnya meregangkan kaki. DUDUK!! meskipun saya tahu hanya akan duduk untuk beberap menit saja (sudah dekat ke tujuan)

Stasiun Tugu Yogya, 19.30 WIB
alhamdulillah…sudah sampai stasiun Tugu. tujuan pertama kali ini adaah “Taman Pintar”. mau “nunut” sholat dan hunting buku di Shopping Center.
segera setelah turun, saya dan sahabat saya menuju shelter jogya trans terdekat untuk menuju taman pintar. disini masih harus menunggu bus nya datang (ujian kesabaran).
setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya Jogya Trans nya datang juga. Jogya Trans 1A siap membawa ku ke taman pintar ^^
menuju taman pintar jam 20.00 WIB kurang 5 menit 🙂

Taman Pintar, 20.10 WIB
waduh, musholanya gelap gulita dan terkunci dari luar 😦
sambil menahan rasa yang “serba salah” (karena blm sholat), kami memutuskan untuk hunting buku di Shopping center sambil menunggu teman yang akan menjemput untuk diantarkan ke tempat yang bisa dipake sholat.
Toko pertama, “mbak ada buku Jalan cinta para pejuang?” hunting buku titipan teman. alhamdulillah, lgsg ketemu di toko pertama. tapi sayang, buku yang saya cari justru tidak ada. sebagian besar toko sudah tutup, tinggal beberapa yang masih buka. Di semua toko yang masih buka itu, tidak ada buku yang saya cari 😦
dengan lesu, saya kembali ke toko pertama dan berbincang dengan penjualnya. tidak lupa menanyakan tempat sholat terdekat (sangat ingin sholat). ternyata kata mbak penjual, Mushola taman pintar boleh dibuka dan boleh dinyalakan. kabar gembira 🙂
segera bersama teman saya menuju mushola, ada pak satpam dan alhamdulillah memang bisa dibuka. O lala..ternyata di mushola banyak mas-mas lagi tidur 😦
ah yang penting sholat!!
selesai sholat, ternyata jemputan sahabatku sudah datang. hmm..tinggal jemputanku. Alhamdulillah, tidak lama, saya dapat SMS dari “jemputan” ku. ternyata sudah menunggu di ujung jalan. bersalaman, mengucapkan “met milad”, berbincang-bincang (ngrayu biar diantar mencari buku 😀 ), akhirnya berangkat, tujuan kita : PRO U MEDIA-Jogokaryan.

Yogya, 20.30 WIB
menuju daerah Jogokaryan. pernah dengar Masjid Jogokaryan? Masjidnya bagus. bukan hanya karena arsiteknya, tapi juga karena Jamaahnya yang selalu buanyak saat sholat subuh, manajemen masjidnya, dan masjid yang bisa membuat orang “sholat”. saya pernah kesana, dan benar, di dalam masjid, semua perlengkapan RT ada. nyaman. pantas lah kalau banyak jamaah yang kesana.
sayang, Pro U Media yang ada tepat didepan masjid sudah tutup. mungkin yang jaga lagi ikut kajian ya di masjidnya…
“Ri, aq baru inget. ada Bookfair, mau nyoba nggak?” Zai “jemputanku” nyletuk.
“wis jam semene zai (20.50),,jik buka?”
“g tahu..coba aj. g jauh kok dari markas”
“okelah kalo begitu!!” sambutku semangat. semoga bukunya ada ^^

Yogya BookFair, 21.15 WIB
“mbak udah tutup” kata pak satpam
“masih ada itu pak yang buka..”
“tapi sudah penutupan jam 9 tadi..apa mbaknya mau nyoba?”
“iya pak, saya coba aja. siapa tahu masih ada”
“ya sudah, silahkan masuk. g usah bayar parkir!” kata pak satpam
Alhamdulillah ^^
segera menuju Stand Pro U media. alhamdulillah, buku ada. meskipun tinggal 3. ^^
karena ternyata masih banyak stand yang buka, saya dan Zai melihat-lihat stand pakaian muslimah (dasar wanita).

Yogya, 21.30
Menuju markas. mampir di pom bensin sebentar, dan akhirnya menuju MArkas JAC. tapi karena masih sepi, hanya ada beberapa, kami memutuskan untuk ke masjid.Mengistirahatkan mata (Baca : tidur).
Zai berusaha tidur, sementara saya, tidak bisa tidur. ya sudahlah, akhirnya saya baca buku yang baru di beli itu.

Markas, 22.00
“Ri, ndang rene.”
saya dan Zai segera menuju markas.
wah lumayan, sudah beberapa yang datang lagi. akhirnya kita isi waktu untuk berbincang dan makan malam (saya sendiri yang blm makan malam).

Markas jam 22.30 WIB
Kami berkumpul ke tengah dan segera membuat lingkaran.saatnya berdoa agar selamat sampai pantai Parangkusumo. malam ini lain, para wanita harus naik motor! sebelumnya, para wanita naik mobil. karena yang punya berhalangan hadir,kami harus naik motor sendiri.
setelah berdoa, kami berbonceng bonceng menuju Parangkusumo.
Perjalanan malam yang duingin. sambil menahan kantuk, kecepatan 80km/jam, kami 5 sepeda motor menembus dinginnya malam yogya.
saya didepan, nanti gantian pulangnya Zai.

Parangkusumo, 23.30 WIB
Alhamduillah, sampai juga di pantai. kami berhenti di tempat seperti biasa, menata alas dari mantol dan siap2 mengamati langit. sayang langit mendung tertutup awan tebal dan sangat gelap!!
tapi alhamdulillah, perlahan sang bintang mulai tampak.
kami melihat ke arah rasi Gemini, karena memang hujan meteornya hujan meteor Geminids,jatuhnya dari arah rasi ini.
asyik mengamati, wah, ada wartawan TV ONE yang datang meliput acara kami. berakting seadanya ^^ [karena blm kelihatan hujannya] dan diliput deh 😀
liputanya ada di KAbar Siang TV ONE .
semakin dini hari, malam semakin petang. tp Syukurlah, ALhamdulillah, sang mateor mulai menampakkan diri meskipun tidak 100meteor/jam yang kami lihat ^^
tp cukuplah kami bersorak2 🙂
semakin malam…ternyata awan semakin tebal dan semakin dingin..waktu yang tepat untuk tidur.hehe…ternyata kami (para wanita) ketiduran cukup lama.

Parangkusumo, 02.56 WIB
angin semakin kencang dan langit semakin berawan. akhirnya kami semua sepakat pulang ke markas. memang tidak seperti biasanya. biasanya kami pulang jam 04.00 WIB.
mampir pantai Depok untuk nyari kamar mandi, dan siap menembus dinginnya Yogya menuju markas.

Markas, 04.00 WIB
kami datang bertepatan dengan adzan subuh. sampai mushola, langsung subuh berjamaah.

“Pagi pun datang dan Solo memanggilku Pulang ^^

Manuju Solo di Stasiun Lempuyangan, 06.34 WIB

~Rindu METEOR di Bulan Agustus~

Aku Cemburu!!

Desember 13, 2010

Aku cemburu!!
Pada kalian yang selalu mampu ISTIQOMAH dengan amalam-amalan harian
Pada kalian yang selalu bisa memberikan SENYUMAN tulus untuk saudara kalian
Pada kalian yang senantiasa TABAH dengan apapun cobaan yang kalian terima
Pada kalian yang selalu bisa mengambil HIKMAH dari setiap kejadian
Pada kalian yang selalu mampu BERSYUKUR
Pada kalian yang selalu mampu BERSABAR

Ah, Aku Cemburu!!
Pada kalian yang senantiasa SEMANGAT untuk belajar
Pada kalian yang selalu BANGKIT meskipun jatuh berkali-kali
Pada kalian yang selalu mampu BERKONTRIBUSI
Pada kalian yang tidak ingin hanya berpangku tangan
Pada kalian yang selalu BERGERAK
Pada kalian yang selalu berIKHTIAR, dan menyerahkan setiap hasilnya pada ALLAH semata
Pada kalian yang tidak mudah MENGELUH
Pada kalian yang selalu TEGAS memegang PRINSIP
Pada kalian yang tetap IDEALIS tanpa mengesampingkan REALITA
Pada kalian yang selalu mengembalikan setiap urusan kepada ALQURAN dan SUNNAH saja…

Aku Cemburu!!

Dan aku pun berdoa, agar kalian tetap seperti itu,
Karena sungguh, aku BELAJAR dari kecemburuan ini…

Saat hujan menjadi waktu yang tepat untuk berdoa
Jum’at, 10 Desember 2010

Saya hanya ingin (berusaha) Berprasangka baik kepada ALLAh

Desember 10, 2010

ah,,lagi lagi saya dihinggapi pertanyaan “Kenapa begini ya ALLAH?”

saya ingat status FB saya bulan lalu
“Jika QT didera pertanyaan ”Kenapa begini ya Allah?” dan tdk segera menemukan jawabnya,BERSABARLAH! Allah pasti menepati janjiNYA. Dia pasti akan memberitahumu Sejuta alasanNYA disaat yang tepat,yg bahkan tak tertandingi oleh beriburibu SYUKUR qta.”

*memang, status FB saya kebanyakan ditujukan untuk diri sendiri.

saat itu saya merasa menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yang lama sekali saya tunggu…sungguh saat itu saya BERSYUKUR!!

tapi kali ini,,pertanyaan itu mendera lagi..
ah..tapi sungguh..meskipun begitu menyesakkan hati (lebay mode on), tapi saya sangat ingin berusaha berprasangka baik kepada ALLAH

“Aku sesuai persangkaan HambaKu”

Allah..hamba yakin,
ENGKAU lah maha PEMBERI yang TERBAIK bagi HAMBAMU
Allah,,hamba tahu,
ENGKAU tak mungkin meninggalkan HambaMU sendiri,
Allah..hamba tahu,
Hamba lah yang terkadang tak berSYUKUR untuk semua NikmatMU
padahal, sungguh banyak Nikmat yang tak mampu hamba hitung..
Allah..Allah..Allah..

“Allah kami telah menganiaya diri kami sendiri, sungguh jika Engkau tiada mengampuni kami, tiada mengasihani kami, maka kami benar-benar akan menjadi bagian orang-orang yang sungguh merugi”

*disini,menunggu jawabanNYA yang terindah*

CINTA LUAR BIASA LAKI-LAKI BIASA

Mei 10, 2010

Cinta Laki-laki Biasa
Publikasi : Friday, July 15, 2005

Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon lima belas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

Nania terkesima.

“Kenapa?”

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?”

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”

“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

“Baru pembukaan satu.”

“Belum ada perubahan, Bu.”

“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak!”

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

“Dokter?”

“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat.”

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta?”

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

“Nania, bangun, Cinta?”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”

“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

“Nania beruntung!”

“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan beberapa ejaan

KONTES KECANTIKAN

Mei 10, 2010

Kontes kecantikan menyisakan dua FINALIS. PROF KANCIL yang terkenal CERDAS menjadi juri ditemani OWL yang terkenal BIJAK. Mereka benar-benar bekerja keras untuk menentukan siapa yang paling cantik diantara BURUNG MERAK DAN ANGSA.

Pilihan dari para hadirin ternayat imbang. Sehingga, kemangan akan ditentukan oleh tim JURI. Oleh karena itu, berlangsunglah diskusi a lot antara professor KANCIL dan si bijak OWL.

“menurutku Angsa yang berhak menang. Lihat bulunya putih dan bersih. Itu menandakan putih dan suci hatinya,” kata professor kancil.

“Tetapi kita belum memastikan apakah hatinya seputih bulunya,” kata OWL bijak.

Kedua juri ini pun kembali memeras otak mencoba menentukan keunggulan dari dua kontestan.

“ Bagaimana kalau kita pilih merak saja?” usul di bijak OWL

“Alasanmu apa, Owl? “

“ Lihatlah bulu-bulu indah dan gemulainya ketika ia menari. Sangat Cantik!”

” Apakah engkau juga tidak melihat betapa gemulainya ANGSA ketika menari? ”

Patah alibi yang dibangun

”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? ” tanya OWL.

” Engkau terkenal dengan kebijaksanaanmu. Kenapa engkau tanya kepadaku? ” kata Prof. Kancil

” KEBIJAKSANAAN KADANG MEMERLUKAN KECERDASAN OTAK. Engkau memiliki itu, makanya aku bertanya,” kata OWL membela diri

”Baiklah, kita tunda selama dua hari. Kita cari Ilham selama penundaan ini. Bagiamana?” kata profesor memberi usul.

“Aku Setuju”

Dua hari kemudian, profesor kancil dan si bijak OWL sudah duduk di meja juri. Sementara merak dan angsa maíz menebar pesona di atas panggung. Para penonton begitu memuja angsa dan merak.

“ Bagaimana, OWL? Sudahkah engkau bisa menentukan siapa yang pantas? “

Owl balik menatap dan seolah melontarkan pertanyaan yang sama.

“ Oya profesor, bukankah kedua contestan ini betina? “

Profesor kancil tertawa lebar, mengundang keheranan si bijak OWL.

“ Kenapa Profesor tertawa? “

“ Engkau ini aneh Owl, sudah tentu mereka betina. Namanya juga KECANTIKAN”

Owl menepuk jidatnya. Sementara profesor kancil masih memelihara tawanya.

“Profesor, kenapa engkau tak henti tertawa? Tidaklah engkau tangkap maksud tersirat dari pertanyaan bodohku abruzan?”

Professor kancil menghentikan tawanya. Ia lantas menatap si Owl.

“ Kalau kita bicara masalah kecantikan maka hal yang itu sudah didaulat milik ANGSA dan MERAK. Buktinya, mereka mampu melenggang sampai dua besar. Nah sekarang pertanyaanku, hal apa yang esensial yang harus dimiliki betina/wanita ?”
Tanya Owl

Tanpa ragu profesor kancil berujar, ”RASA MALUNYA”

Si bijak Owl menganggukkan kepala. Lalu mereka memulai penilaian lagi. Dilihatnya MERAK dan ANGSA. Mereka betul-betul CANTIK. Sampai kemudian professor kancil dan si bijak Owl sepakat memilih ANGSA sebagai pemenang kontes kecantikan itu.

Beginilah keputusan mereka berdua di hadapan hadirin.

” MERAK Memang cantik, tetapi ia telah mengantongi rasa congkak karena betapa sering ia telah mengantongi rasa congkak karena betapa sering ia mendongak. Sementara angsa, ia berhasil mengantongi predikat menawan dan rupawan karena betapa seringnya ia MENUNDUKKAN PANDANGAN ”

Dari buku ” Beginilah SEHARUSNYA CINTA!”

Saudariku,
Betapa ALLAH telah memberikan nikmat yang LUAR BIASA bagi kita
PERCAYALAH!!
SETIAP WANITA PASTI CANTIK

Bukankah ALLAH telah meberikan kita PELUANG untuk memasuki SURGA dari pintu manapun dengan MENDIRIKAN SHOLAT, TUNAIKAN PUASA, JAGA KEHORMATAN, PATUHI SUAMI KITA.
ISLAM telah MEMULIAKAN kita!
”Nikmat Nya yang manakah yang kan kita dustakan lagi?? ”

Mungkin kita telah menunaikan Sholat,
Sudah Berpuasa
Tapi, bukankah Menjaga KEHORMATAN diri kita sendiri itupun bernilai PAHALA?
Dan RASA MALU adalah cara kita MENJAGA KEHORMATAN kita,,

-ria-

Sepenggal Kisah Aisyah

November 11, 2009

15 Februari 2009, 08.00 WITA
Aku masih terpana didepan cermin. Sendiri. Hari ini, wajahku tidak seperti biasa, baju yang kukenakanpun tidak seperti biasa. Baju putih panjang lengkap dengan kaus kaki putih dan sarung tangan putih ini memang baru beberapa pekan yang lalu diantar ke rumah oleh seorang penjahit langganan keluarga. Jilbab putih lebar yang kukenakan saat ini masih bersih meskipun bukan jilbab baru, tapi kali ini jilbab putih ini tampak lebih cantik dengan tambahan melati segar yang melingkar dikepala dan selendang panjang.
Subhanallah wal hamdulillah wa laa illaahaillallah,,,
Kuucapkan kalimat dzikir untuk menutupi rasa syukur yang bercampur dengan ketegangan.
****
9 November 2008, 21.00 WITA
“Aisyah, ada telfon dari pamanmu di Jakarta” sapa ibuku,
“Iya bu, sebentar,,”
Aku mulai meletakkan mushaf yang kubaca sejak isya tadi. Segera setelah mukena kulipat, aku menghampiri ibu yang masih berbicara dengan paman.
“Dek, ini Aisyahnya datang. Coba dibicarakan sendiri ya,,” Ibu memberitahu kepada paman kalau aku sudah siap meneriman teleponnya. Dengan cepat, ibu memberikan gagang telepon. Tapi ada yang berbeda di raut wajah ibu..
“Iya paman, ini Aisyah” sapaku.
“ Bagaimana kabarmu, nak? Gimana kuliahnya? “ tanyanya. Adik kandung bapak ini memang sudah sangat akrab denganku. Beliau adalah salah satu orang yang sering menjadi tempatku bertanya saat ada yang tidak kupahami mengenai Islam.
“ Alhamdulillah baik Paman, meskipun semester 3 ini cukup berat, tapi InsyaAllah bisa Aisyah lewati. “
“ Baguslah nak kalau begitu. Semoga Allah senantiasa memberimu kemudahan” doa pamanku
“ Amiinnnn,,,,,,” aku mengamininya.
“ Nak, ada hal penting yang ingin paman sampaikan. “ pamanku tampaknya mulai serius.
“ Iya paman, Aisyah siap mendengarnya “
“ Paman punya cerita nak, dengarkan baik-baik ya… Kemarin, setelah paman sholat subuh di masjid dekat rumah, paman berbincang-bincang dengan seorang pemuda. Dia bukan pemuda asli Jakarta. Kebetulan saat itu beliau sedang ditugaskan di salah satu kantor cabang di Jakarta. Kami bercerita banyak. Tentang kehidupannya, tentang kepribadiannya, tentang pekerjaannya dan sebagainya. Dari cerita yang beliau ungkapkan, paman tahu, beliau orang yang baik. Keinginannya untuk mempelajari Islam dan memperbaiki diri sangat besar. Dan yang paling penting, beliau sudah ada keinginan untuk menikah. Usianya saat ini 23 tahun. Selisih 4 tahun denganmu. Paman langsung teringat kamu nak, bukankan kamu sudah ada keingingan menikah? Setelah berfikir, paman memintanya untuk silaturahim ke rumah paman malam harinya setelah selesai kerja. Subhanallah nak, beliau memenuhi undangan paman, malam harinya beliau ke rumah paman. Saat itu juga paman menceritakanmu nak, semua tentangmu. Dan akhirnya, paman memintanya untuk membuat data diri yang lengkap disertai foto jika memang berminat. Subhanallah, pagi harinya, beliau datang dengan membawa data diri yang sangat lengkap. Setelah membaca data diri itu, paman sangat yakin beliau memang orang yang baik dan sesuai dengan kriteriamu. Tanpa berfikir panjang, paman memintanya untuk langsung mengkhitbahmu. Jadi, telepon paman ini untuk menyampaikan kepada Aisyah tentang khitbah pemuda itu. Namanya Ahmad, beliau asli Semarang, Jawa Tengah. Bagaimana denganmu nak? Paman telah menceritakan hal ini dengan ibumu tadi, dan Paman juga telah meminta tolong kepada ibumu untuk menyampaikannya kepada Ayahmu. InsyaAllah jika memang kamu menerimanya, paman yang akan langsung memberitahukan ini ke Ayahmu. Bagaimana nak? “
Air mataku tiba-tiba lancer membasahi pipiku. Aku langsung sujud syukur saat itu juga. “ Ya Allah,,inikah jawaban dari doa-doaku? Ya Rabb, terimakasih ya Rabb,,,, ”
“ Bagaimana nak? “ suara paman menyadarkanku.
“ Apakah Paman yakin, beliau baik untuk Aisyah? “ tanyaku
“ Iya, InsyaAllah paman sangat yakin, beliau baik untukmu nak,” pamanku meyakinkanku,
Aku menoleh ke arah ibu yang dari tadi berada disampingku, seolah paham apa yang ada dibenakku, ibu mengangguk perlahan dan berkata, “ Ibu serahkan semua kepada Aisyah “
“ Paman, Aisyah ingin seperti bunda Zainab binti Jahsy, saat Rasulullah mengirimkan utusan untuk melamarnya, bunda Zainab tetap beristikharah meskipun bunda Zainab tahu bahwa itu merupakan kebaikan tertinggi. Maka, berilah Aisyah waktu 3 hari untuk Aisyah beristikharah. InsyaAllah, Aisyah akan mengabari paman 3 hari lagi, “ jawabku dengan nada bergetar.
Anas ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melamar Zainab. Zainab menjawab,
“Saya tidak bisa memutuskan sesuatu hingga Rabb saya memerintahkan kepada saya. Maka ia pun berdiri ke temoat sujudnya (sholat istikharah) “
(H.R Muslim)

***
11 November 2008, 20.00 WITA
“ Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikan kebaikan kepadaMu dengan ilmu Mu, aku memohon kemampuan kepadaMu dengan kekuasaanMu, dan aku memohon kepadaMu dari anugerah Mu yang agung. Sesungguhnya,Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Mahatahu sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa pernikahan ini ialah baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka tentukanlah untukku, mudahkanlah jalannya dan berkahilah aku di dalamnya. Dana apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini ialah buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah diriku darinya, tentukanlah untukku apa pun yang terbaik, kemudai ridhailah aku dengannya”
Doa istikharah itu menutup sholat istikaharahku di hari ke tiga ini. Alhamdulillah, setelah selesai sholat, aku semakin yakin untuk menerima pinangan pemuda bernama Ahmad itu.
Masih mengenakan mukena putihku, aku meraih HP Nokia 2626 merah di atas tempat tidurku. Aku mulai menuliskan SMS untuk pamanku di Jakarta. Dengan tangan bergetar, Bismillahirrohmanirohim,,
“Assalamu’alaykum Wr Wb. Paman, InsyaAllah Aisyah sudah istikharah, dan Aisyah pun telah yakin. Bismillah,,Aisyah menerima pinangan pemuda itu”
SMS singkat itu langsung kukirimkan ke nomor paman yang di Jakarta. Lima menit kemudian, HP mungilku bordering, panggilan masuk dari Paman. Langsung kuangkat,
“ Iya Paman,,” sapaku
“Alhamdulillah,,,Barakallah,,,kabar gembira ini akan paman sampaikan kepada pemuda itu. InsyaAllah, besok, paman akan memintanya untuk menelponmu. Besok, paman minta dikirim fotomu ya nak, tanpa cadar tentunya “ suara pamanku tampak gembira
“ Iya paman, InsyaAllah, besok Aisyah kirimkan foto Aisyah. Tanpa cadar tentunya “ aku menyanggupinya.
***
15 Februari 2009, 09.00 WITA
“ Aisyah, sudah siap? “ Ibu membuyarkan lamunanku,
“ Ayo, semua sudah siap di Masjid, nak Ahmad juga sudah datang bersama keluarganya. Pak penghulu juga sudah siap. Kami menunggumu sekarang “ ajak ibuku
Suara tilawah Qur’an dari masjid At-Taqwa terdengar semakin keras, seiring semakin dekatnya langkahku menuju masjid itu.
“ Bismillah,,,,Ya Rabb,,berikanlah keberkahan bagi pernikahan hambaMu ini. “
doaku saat ijab itu mulai diucapkan.

NB : terinspirasi dari kisah “SEBENARNYA” tapi dengan nama, tempat dan waktu yang diubah. Semoga bisa kita ambil ibrohnya bersama ^^.
Special untuk sahabatku yang akan menikah beberapa bulan lagi,
Akhirnya kau menemukannya ^^

Solo, 11 November 2009, 10.15 WIB

SYARAT MAKSIAT

Oktober 23, 2009

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”
Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

“Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,” ucap Ibrahim.
Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”
“Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas.
“Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”
“Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah.
“Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”
“Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.
“Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian.

“Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.
“Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya.”
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”
“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”
“Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”

“Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.

“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup…cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah.”

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.
Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”

Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”
Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.”

Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”

Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.