RESAH
Seorang sahabat baru saja silaturahim ke rumah saya, teman seperjuangan di masa lampau. Sebelum ke rumah, rupanya beliau sempatkan untuk “melihat napak tilas bangunan yang ia bangun”. Mengetahui kenyataan bahwa, “bangunan” yang ia bangun dulu RUNTUH tanpa ada yang merawatnya sama sekali, beliau bercerita dengan sangat “sedih”. Dengan semangatnya beliau menceritakan bagaimana susah payahnya dulu ia membangun bangunan itu bersama kawan-kawannya, bagaimana ia mencoba menghadapi segala rintangan demi mencapai apa yang ia dan teman-teman “selingkarannya” cita-citakan, bagaimana ia dan kawan-kawannya mengatur strategi-strategi untuk sebuah “perbaikan”, tapi ada satu yang setidaknya membuat ia bahagia, “Uang dari kotak infaq yang dulu kami usulkan dan buat sekarang sudah mencapai angka sekitar 10 juta setelah dikurangi untuk mengadakan berbagai taklim”. Itulah satu-satunya kabar yang membuat ia bahagia saat menceritakannya pada saya. Banyak hal yang ia ceritakan, kurang lebih 2 jam waktu untuk ia bercerita dan diskusi. Meskipun sudah hamper 4 tahun ia tidak lagi berjibaku dengan dunia “dakwah” yang ia geluti dulu, tapi saya kagum, ia masih sangat fasih berbicara tentang DAKWAH. Kadang saya malu juga, ia lebih SEMANGAT dibandingkan saya yang saat ini masih menyandang status aktivis! Setelah ia sampai rumah, beliau SMS, “apa karena kegusaranku ya,Q mesti liqo lagi.”
“Alhamdulillah,,,akhirnya ia kembali” saya pun bersyukur. Apa yang membuat ia kembali? Karena ia RESAH dengan apa yang ia lihat sekarang. Semoga ini awal yang baik, semoga ini memang jalan yang ia tempuh agar ia KEMBALI.
RESAH, pernah mengalaminya?
Untuk sebuah perbaikan, atau bahasa kerennya DAKWAH, saya rasa RESAH adalah hal yang mutlak diperlukan oleh penggeraknya.
Ketika anda MALAS untuk mengerjakan amanah-amanah yang dibebankan kepada Anda, RESAH mampu mengobatinya, dengan keRESAHan seorang yang berhenti akan segera BERGERAK untuk melakukan segala aktivitasnya, seorang yang MATI pun bias HIDUP lagi (mati aktivitasnya, contohnya teman saya di atas). Di syuro-syuro terkadang beberapa menit bahkan digunakan untuk memunculkan keresahan!!
RESAH berarti PEDULI dengan apa yang TERJADI
RESAH berarti mencoba MELAKUKAN YANG TERBAIK untuk lingkungan
RESAH berarti BERGERAK dengan penuh kesadaran kenapa ia harus BERGERAK!!
Anda mengaku aktivis, tapi anda tidak RESAH?? Perlu ditanyakan kembali!!
yah… keluar dari kampus bukan berarti harus keluar dari DAKWAH kan? sebenarnya DAKWAH makanan apa to?
walah walah…
kadang orang merasa keluar dari DAKWAH ketika tidak membawa “BENDERA”
tapi nak menurut saya bukan itu esensinya…
tapi mbak… njenengan bener ketika menulis
“RESAH berarti PEDULI dengan apa yang TERJADI
RESAH berarti mencoba MELAKUKAN YANG TERBAIK untuk lingkungan
RESAH berarti BERGERAK dengan penuh kesadaran kenapa ia harus BERGERAK!!”
resah…
bisa bikin stres
berujung pada stroke
ada gak tipsnya menghilangkan stresss secara medis
Resah memumculkan ketakutan, resah bukan berarti peduli, segala sesautu punya banyak sisi, sisi resah tidak hanya pada peduli saja…
ini ukhti RIA PRATIWI kah???
muti : YuPz, i’m Ria Pratiwi Kusumastuti…bu korfakwati yak?
resah adalah sebuah rasa dimana kita merasa belum bisa melakukan sesuatu dengan maksimal, atau merasa takut atas sesuatu yang terjadi……….